Presentasi utama berlangsung pada hari kedua. Setiap bupati dan wali kota akan memaparkan langsung program serta kebijakan kebudayaan yang telah dijalankan di daerahnya.

“Dewan Juri ingin memastikan apa yang tertulis dalam proposal benar-benar dijalankan di lapangan. Karena itu, presentasi ini penting,” kata Yusuf.
Ia menjelaskan, aspek penilaian mencakup penguasaan materi, cara penyampaian, serta kelengkapan sarana pendukung. Kepala daerah diperbolehkan membawa pendamping, namun tidak diperkenankan ikut berbicara.
“Pendamping hanya sebagai saksi, bukan sebagai penyaji,” tegasnya.
Pada AK PWI 2026, PWI Pusat mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers.” Tema ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Sebagian besar peserta, termasuk para bupati dan wali kota, memilih subtema penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya yang inklusif. Fokus penilaian tidak hanya pada program, tetapi juga pada inovasi dan dampaknya bagi masyarakat.
“Yang kami lihat bukan sekadar kegiatannya, tapi apa dampaknya bagi masyarakat, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional,” jelas Yusuf.
Masuknya Bupati Maya Hasmita ke babak final menjadi sinyal bahwa upaya pemajuan kebudayaan di Labuhanbatu mulai mendapat perhatian di tingkat nasional.
Capaian ini juga menunjukkan peran aktif pemerintah daerah dalam menjaga dan mengembangkan potensi budaya lokal. AK PWI Pusat sendiri telah digelar sejak 2016 dan melahirkan banyak kepala daerah yang dikenal luas karena terobosan kebudayaannya.









