Sebagai kepala daerah, Maya tidak berbicara dalam ruang hampa. Ia membawa contoh konkret dari tanah Labuhanbatu. Di hadapan peserta dialog, ia memperkenalkan Bahasa Pane, nilai-nilai kearifan lokal, hingga busana adat Melayu pesisir yang selama ini hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Baginya, budaya bukan sekadar simbol seremonial. Di dalamnya terkandung nilai etika, tata krama, dan cara pandang hidup yang membentuk karakter. Jika nilai-nilai itu tidak diwariskan secara sistematis, maka perlahan akan tergerus oleh zaman.
“Kalau budaya hanya disimpan dalam ingatan orang tua, maka ia akan hilang. Tapi kalau diajarkan di sekolah, ia akan hidup lintas generasi,” tegasnya.
Dialog Kebudayaan ini merupakan gagasan PWI Pusat sebagai bagian dari rangkaian HPN 2026. Dipandu oleh Direktur Anugerah Seni dan Budaya, Yusuf, kegiatan tersebut diikuti oleh sepuluh kepala daerah penerima anugerah kebudayaan, anggota PWI, serta Dewan Juri penilai.
Forum berlangsung dinamis. Gagasan saling bertukar. Isu pelestarian bahasa daerah, seni tradisional, hingga penguatan kurikulum berbasis budaya lokal menjadi topik yang hangat dibicarakan. Para peserta sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga menjadikannya relevan bagi generasi muda.
Dalam konteks itu, Bupati Maya juga menekankan pentingnya kolaborasi. Menurutnya, menjaga budaya bukan hanya tugas pemerintah daerah. Tokoh adat, budayawan, pendidik, dan insan pers memiliki peran yang sama pentingnya.
“Budaya harus didokumentasikan, diajarkan, dan diberitakan. Pers punya peran besar untuk memastikan budaya daerah tidak tenggelam di tengah arus global,” katanya.
Direktur Anugerah Seni dan Budaya Yusuf menegaskan bahwa seluruh gagasan kepala daerah tidak akan berhenti sebagai wacana. Ia memastikan, hasil dialog akan disampaikan kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, sebagai bahan pertimbangan kebijakan di tingkat nasional.
“Apa yang disampaikan para kepala daerah penerima anugerah akan kami teruskan ke kementerian. Ini menjadi suara daerah yang penting untuk diperhatikan,” ujarnya.
Selain Bupati Labuhanbatu, sejumlah kepala daerah lain turut menyampaikan pandangan, di antaranya Bupati Manokwari, Padang Pariaman, Lampung Utara, Temanggung, Manggarai, Blora, serta Wali Kota Malang, Samarinda, dan Mataram. Masing-masing membawa cerita dan tantangan budaya dari daerahnya.









