Menurutnya, perbedaan pilihan dalam proses demokrasi organisasi merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya merusak hubungan persaudaraan sesama wartawan.
“Kalau kita bersatu dan kompak, kita akan kuat. Sebaliknya, kita akan mudah dipermainkan jika tidak kompak dan tidak bersatu,” tegas Farianda.

Ia juga mengingatkan agar momentum konferensi tidak menjadi alasan munculnya perpecahan di lingkungan organisasi.
“Berbeda pilihan itu biasa, karena merupakan hak demokrasi. Jangan karena berbeda pilihan, kemudian muncul rasa saling hasad dan hasut. Pesta hanya satu hari, persaudaraan selamanya,” ungkapnya.
Farianda berharap seluruh anggota dapat mengikuti konferensi dengan suasana kekeluargaan. Ia ingin proses demokrasi organisasi berjalan tanpa meninggalkan sekat di antara sesama anggota.
“Saya tidak ingin setelah pesta demokrasi justru muncul jarak di antara kita. Saya ingin kita bersama-sama membesarkan PWI sebagai rumah besar kita. Mari kita berkonferensi dengan riang gembira,” ajaknya.
Munculnya satu nama dalam pengembalian berkas bakal calon Ketua PWI Sumut menjadi salah satu perkembangan penting menjelang konferensi 21 November 2026.
Meski demikian, status Farianda masih harus melalui tahapan verifikasi administrasi dan penetapan sesuai mekanisme organisasi.
Di sisi lain, pesan mengenai persatuan menjadi perhatian dalam menghadapi agenda demokrasi tersebut. Konferensi bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum menjaga soliditas dan keberlangsungan organisasi wartawan.
Dengan tahapan yang masih berjalan, seluruh anggota PWI Sumut diharapkan dapat menjaga suasana kondusif hingga konferensi berlangsung.
PWI Sumut kini bersiap memasuki tahapan berikutnya dengan tetap mengedepankan aturan organisasi, demokrasi, dan semangat persaudaraan. (Asbat)










