Atlet dan Tekanan Mental Internasional

Presiden Prabowo juga menyoroti beratnya tantangan yang dihadapi atlet. Ia memahami bahwa tidak semua cabang olahraga dinilai secara objektif. Namun, Presiden meminta atlet tetap fokus dan tidak berkecil hati.
“Tidak usah berkecil hati. Yang penting saudara-saudara telah berjuang sekeras tenaga. Sekarang bagaimana meningkatkan prestasi di masa mendatang,” tutur Presiden.
Kepala Negara menekankan bahwa menjadi atlet internasional membutuhkan mental yang kuat. Menurutnya, hanya atlet dengan semangat dan daya juang tinggi yang mampu bertahan di panggung dunia.
“Menjadi atlet itu butuh mental khusus. Atlet internasional butuh mental yang lebih khusus lagi,” tegas Presiden Prabowo.
Presiden bahkan mencontohkan atlet berkuda cabang eventing yang tetap bertanding meski mengalami cedera serius. Ia menyebut sikap tersebut sebagai teladan pengorbanan dan patriotisme.
Penghargaan Negara Bukan Sekadar Bonus
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa bonus yang diberikan negara bukan bentuk upah. Bonus tersebut merupakan amanah dan tabungan masa depan bagi atlet.
“Kalau kita memberi penghargaan berupa uang, itu bukan membayar upah. Itu tabungan untuk masa depanmu,” kata Presiden Prabowo, dikutip dari BPMI Setpres.
Presiden menyadari bahwa para atlet mengorbankan masa muda, waktu, dan kenyamanan hidup. Karena itu, negara wajib hadir dan menghargai setiap tetes keringat mereka.
Ia juga mengapresiasi langkah Panglima TNI yang memberikan kenaikan pangkat kepada atlet berprestasi.
“Saya terima kasih Panglima TNI, langsung disekolahkan untuk jadi perwira. Terima kasih,” ujar Presiden.
Pembinaan Jadi Kunci Prestasi
Presiden Prabowo turut menyampaikan apresiasi kepada para ketua cabang olahraga dan seluruh pihak yang melakukan pembinaan atlet secara konsisten.
Menurut Presiden, tidak ada prestasi tanpa sistem pembinaan yang kuat dan berkelanjutan.
“Tanpa pembinaan yang baik, tidak mungkin ada prestasi,” imbuhnya.








