Bagi Halomoan, DPRD Labuhanbatu berperan penting dalam menciptakan kondisi damai tersebut. Dengan membuka ruang dialog, DPRD dianggap berhasil menunjukkan fungsi sejatinya sebagai lembaga perwakilan rakyat.
“Ketika rakyat bicara, wakilnya harus mendengar. Itulah yang saya lihat kemarin. DPRD memberikan ruang, dan mahasiswa menyambut dengan cara terhormat,” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Halomoan menitipkan pesan moral bagi masyarakat. Ia berharap momentum kondusif ini menjadi kebiasaan baru, bukan sekadar peristiwa sesaat.
“Labuhanbatu harus bisa menjadi contoh. Jika kita bisa menjaga kebersamaan dalam aksi kemarin, maka ke depan perbedaan politik maupun sosial tidak akan memecah kita. Demokrasi boleh panas, tapi hati kita harus tetap sejuk,” pungkasnya.
Aksi mahasiswa di DPRD Labuhanbatu pada awal September ini akhirnya tercatat sebagai salah satu momen berharga. Bukan karena tuntutannya saja, melainkan karena cara penyampaiannya yang damai, serta apresiasi tulus dari tokoh-tokoh daerah yang melihatnya sebagai harapan baru bagi demokrasi lokal. (Afdillah)









