Bagi Dewan Juri PWI, kebudayaan bukan hanya soal pertunjukan seni atau peringatan hari besar. Yang dinilai justru bagaimana nilai-nilai budaya hadir dalam kebijakan, menyentuh ruang-ruang sosial, dan membentuk karakter masyarakat.
Dalam konteks ini, Labuhanbatu dinilai memiliki pendekatan yang konsisten. Melalui program “Gema Sahabat (Gerakan Empati Masyarakat)”, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu menempatkan empati sebagai titik awal. Penguatan karakter dan nilai budaya dilakukan sejak dini, melalui pendidikan, keluarga, serta lingkungan sosial.

Pendekatan ini berjalan perlahan, namun berkelanjutan. Program tersebut tidak dibangun dalam ruang kosong. Ia menyatu dengan aktivitas masyarakat, mendorong kepedulian, kebersamaan, serta penghargaan terhadap kearifan lokal. Nilai budaya tidak diajarkan sebagai konsep, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tema Anugerah Kebudayaan PWI 2026, “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers,” menjadi salah satu tolok ukur penilaian.
Dalam hal ini, peran pers mendapat perhatian khusus. Di Labuhanbatu, pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi. Media diposisikan sebagai mitra yang ikut menjaga nilai, mengangkat praktik-praktik baik di masyarakat, serta membangun kesadaran publik tentang pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.
Keterlibatan media ini dinilai memberi ruang bagi kebijakan kebudayaan untuk terus dikawal dan dikritisi secara sehat. Dengan demikian, pemajuan budaya tidak berhenti pada wacana, tetapi terus bergerak dan tumbuh.
Penetapan Bupati Labuhanbatu sebagai penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 dibaca sebagai pengakuan atas kerja yang konsisten. Penghargaan ini menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari capaian fisik, tetapi juga dari seberapa kuat nilai dan karakter masyarakat dibangun.








