Dalam sambutannya, Wakil Bupati H. Jamri, ST menyampaikan apresiasi mendalam kepada BAZNAS yang selama ini konsisten berdiri di garis depan persoalan sosial masyarakat. Ia menyebut BAZNAS bukan hanya sebagai lembaga pengelola zakat, tetapi sebagai jembatan antara kepedulian dan keadilan sosial.

“Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu percaya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Apa yang kita tanam hari ini, akan kita tuai di masa depan,” ujarnya.
Ia menatap anak-anak di hadapannya, seolah ingin memastikan bahwa pesan itu benar-benar sampai. Dengan suara yang tenang, Wabup Jamri berpesan agar para siswa tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Rajin belajar, patuh kepada guru, dan tetap rendah hati dalam segala keadaan.
Lebih dari itu, ia mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam perjalanan hidup anak-anak. “Hormati dan sayangi orang tua kalian. Doa mereka adalah kekuatan terbesar yang kalian miliki,” katanya.
Di akhir sambutannya, Wabup Jamri menyampaikan harapan besar agar BAZNAS ke depan tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan sesaat, tetapi juga melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan. Pelatihan keterampilan, pembinaan usaha kecil, hingga pendampingan bagi masyarakat miskin ekstrem dinilai penting agar bantuan tidak berhenti pada hari ini saja, melainkan berlanjut menjadi kemandirian.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Labuhanbatu, Pengadilan Agama Rantauprapat, Kecamatan Rantau Selatan, jajaran pengurus BAZNAS Kabupaten Labuhanbatu, serta para orang tua dan wali siswa. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa urusan pendidikan dan kesejahteraan anak adalah tanggung jawab bersama, lintas lembaga dan lintas kepentingan.
Ketika acara berakhir, anak-anak itu berdiri dan bersalaman. Amplop bantuan di tangan mereka terasa ringan, namun maknanya berat dan dalam. Ia bukan hanya uang, melainkan pengakuan bahwa mereka diperhatikan, bahwa masa depan mereka dianggap penting.
Langkah mereka meninggalkan ruangan tak lagi sama seperti saat datang. Ada keyakinan yang tumbuh, ada keberanian yang menguat. Di balik wajah-wajah polos itu, mimpi terus hidup—mimpi yang hari itu tidak hanya didoakan, tetapi benar-benar diperjuangkan.
Dan di ruang sederhana itu, pada hari yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, masa depan sedang ditulis pelan-pelan. Dengan kepedulian, dengan zakat yang ditunaikan, dan dengan keyakinan bahwa setiap anak berhak bermimpi, setinggi apa pun langit yang ingin mereka raih. (Afdillah)









