Oleh: BAMBANG AFDILLAH
AKARRUMPUT.COM – Satu dekade terakhir, Indonesia menyaksikan perubahan besar di sektor perdagangan. Dari kios tradisional hingga layar ponsel, transaksi kini berlangsung dalam hitungan detik. Namun di balik kemajuan itu, ada kisah perjuangan tentang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menolak kalah oleh zaman, tentang kepercayaan yang tumbuh antara pembeli dan penjual, serta tentang inovasi teknologi yang menyentuh kehidupan di pelosok desa.

Di tengah gelombang perubahan itu, Lazada Indonesia hadir bukan hanya sebagai pasar digital, melainkan sebagai ekosistem ekonomi yang menumbuhkan keberanian, membangun kepercayaan, dan memberdayakan masyarakat.
Transformasi Digital Dari Pilihan Menjadi Keharusan
UMKM telah lama menjadi jantung ekonomi Indonesia. Namun, derasnya arus digitalisasi global membuat mereka dihadapkan pada pilihan baru beradaptasi atau tertinggal.
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, dari 65 juta UMKM di Indonesia, hanya sekitar sepertiga yang benar-benar aktif dalam ekosistem digital. Padahal, sektor ini menyumbang lebih dari 60% PDB nasional dan menyerap 97% tenaga kerja, disebutkan dalam artikel antaranews.com (Selasa, 15/07/2025) berjudul “Kementerian UMKM sebut 65,5 juta UMKM serap 119 juta tenaga kerja”.
Sebagaimana dilansir Kumparan.com (Sabtu, 17/05/2025) dalam artikel berjudul “Transformasi Digital UMKM: Kunci Bertahan dan Tumbuh di Era Digital”, digitalisasi memungkinkan UMKM memperluas pasar hingga lintas provinsi, bahkan menembus pasar internasional. Namun tantangan besar masih mengintai rendahnya literasi digital, keterbatasan modal, dan belum meratanya akses infrastruktur.
Dari sinilah pentingnya ekosistem digital yang tidak hanya memfasilitasi jual beli, tetapi juga mendidik, mendampingi, dan menumbuhkan.
Lazada Dari Marketplace ke Mitra Pertumbuhan UMKM
Lazada Indonesia menjadi salah satu pionir yang mengambil peran itu dengan serius. Sejak awal, platform ini memosisikan diri bukan sekadar marketplace, melainkan mitra pertumbuhan bagi jutaan pelaku usaha lokal.
Melalui berbagai inisiatif seperti AKAR Digital Indonesia, LazMall, dan LazAffiliate, Lazada berusaha menjawab dua tantangan utama UMKM akses pasar dan kemampuan adaptasi.
Program AKAR Digital Indonesia, seperti dilaporkan krJogja.com (Kamis, 22/09/2022) dalam artikelnya “AKAR Digital Lazada Indonesia Sentuh UMKM Desa”, menggandeng pemerintah daerah untuk membantu pelaku usaha desa agar mampu berjualan secara online. Di dalamnya, Lazada memberikan pelatihan dasar digital, teknik fotografi produk, hingga manajemen stok dan pemasaran berbasis data.
“Banyak pelaku usaha desa yang punya produk bagus tapi tidak tahu cara menjualnya di dunia digital,” ujar perwakilan Lazada dalam kegiatan pelatihan di Semarang. “Program ini bukan hanya mengajarkan teknologi, tapi juga menumbuhkan percaya diri untuk bersaing.”
AI Lazzie Teknologi yang Menyentuh Hati Penjual
Transformasi digital sering kali terdengar abstrak, tapi di tangan Lazada, teknologi dibuat manusiawi. Salah satunya lewat inovasi AI Lazzie, asisten virtual berbasis kecerdasan buatan yang membantu penjual memahami performa toko, membaca tren, dan merancang strategi promosi.
Merujuk pada laporan MediaIndonesia.com (Kamis, 09/11/2023)) dalam artikel “Lazada Dorong Transformasi Digital Jenama Lokal dan UMKM di Indonesia”, penerapan AI Lazzie telah meningkatkan efisiensi dan produktivitas ribuan penjual di platform Lazada. Kanal LazLive, yang memadukan interaksi video langsung dan penjualan, bahkan tumbuh lebih dari 200% pada tahun 2023.
“Dulu saya hanya menebak-nebak kapan waktu terbaik berjualan,” kata salah satu penjual batik yang mengikuti pelatihan Lazada. “Sekarang dengan AI Lazzie, saya tahu kapan pembeli paling aktif dan produk apa yang sedang tren. Itu membuat bisnis saya lebih terarah.”
LazMall dan Pilar Kepercayaan Konsumen
Dalam dunia digital, kepercayaan adalah mata uang utama. Lazada memahami bahwa keberhasilan e-commerce tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada keyakinan bahwa setiap transaksi aman dan setiap produk asli.
Melalui LazMall, Lazada memperkenalkan label “official store” sebagai jaminan keaslian produk. Langkah ini bukan hanya meningkatkan kepercayaan pembeli, tapi juga memberi dampak besar bagi penjual lokal yang ingin naik kelas.
Ribuan merek nasional dan internasional kini bergabung dalam LazMall, dari produsen besar hingga pelaku UMKM. Dengan sistem pengiriman cepat, jaminan 100% orisinalitas, dan dukungan logistik modern, LazMall menempatkan standar baru bagi perdagangan digital yang terpercaya.
Kisah Nyata Dari Konveksi Rumahan ke Pasar Nasional
Di balik strategi besar Lazada, terdapat kisah-kisah manusia yang menghangatkan hati salah satunya datang dari Surabaya.
Topcarindo Pelajaran dari Ketekunan dan Komunitas
Pasangan Bagus Abdillah dan Yuni Retnowati, pemilik merek Topcarindo, dulu hanya menjalankan usaha konveksi sarung mobil dari rumah. Tahun 2019, mereka memutuskan untuk bergabung ke Lazada, meski awalnya tidak paham bagaimana sistem e-commerce bekerja.
“Waktu pertama buka toko online, saya bingung dengan semua fitur,” tutur Bagus, dikutip dari JawaPos.com (Kamis, 03/10/2024) dalam artikel “Cerita Sukses Pelaku UMKM Tekuni Bisnis Online Dorong Lazada Perkuat Komitmennya untuk Hadir di Surabaya.”
Namun berkat pelatihan dan dukungan komunitas Lazada Club, keduanya belajar mengoptimalkan toko, membuat foto produk menarik, dan memanfaatkan kampanye tanggal kembar seperti 11.11 dan 12.12.
Dilansir Kontan.co.id (Senin, 30/09/2024) dalam artikel “Kisah Sukses Topcarindo di Lazada Surabaya, Didorong Komunitas dan Inovasi”, strategi itu berhasil menggandakan omzet mereka hanya dalam satu tahun.
“Sekarang omzet meningkat, dan kami bisa membuka lapangan kerja bagi beberapa tetangga,” ujar Yuni Retnowati dengan bangga.
Topcarindo kini menjadi salah satu contoh UMKM lokal yang berhasil menembus pasar nasional berkat kolaborasi antara teknologi dan kemauan belajar.









