Menurutnya, rapat ini menjadi pintu awal untuk menyerap pandangan Dewan Pembina dan Dewan Pakar sebelum SMSI menyusun pernyataan sikap secara nasional.

Dalam diskusi tersebut, SMSI menekankan pentingnya media menjaga demokratisasi, kebebasan berekspresi, serta tidak terjebak dalam narasi provokatif. Media, kata Firdaus, justru harus berperan sebagai jembatan antara rakyat dan pemerintah.
Dewan Pakar SMSI, Prof. Henri Subiakto, mengingatkan agar pemerintah tetap menuntaskan kasus-kasus penting yang menjadi sorotan publik meski situasi politik tengah bergejolak.
Sementara itu, Dewan Penasehat Prof. Taufiqurahman menyampaikan bahwa aksi massa harus dipandang sebagai ekspresi demokrasi. Namun SMSI, menurutnya, penting untuk menyuarakan “stop kekerasan, stop provokasi dan agitasi” agar tidak memecah belah bangsa.
“SMSI perlu menampilkan berita-berita yang solutif dan meneduhkan. Informasi yang disajikan media siber hendaknya meredakan, bukan menambah perpecahan. SMSI memiliki peran strategis untuk memastikan hal itu,” tegas Prof. Taufiq.
Sebagai tindak lanjut, SMSI akan menggelar Rapat Pleno Nasional pada hari ini (Rabu, 03/09/2025) yang melibatkan pengurus SMSI dari seluruh daerah. Forum ini akan menghimpun informasi, pandangan, dan aspirasi dari setiap wilayah.
Firdaus menambahkan, rapat pleno tersebut akan menjadi forum konsolidasi besar untuk merumuskan sikap organisasi. Dari hasil rapat itu, SMSI akan menyampaikan pernyataan sikap resmi pada Jumat (05/09/2025).









