AKARRUMPUT.COM, Labuhanbatu – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Rantauprapat memperkuat komunikasi dengan insan pers untuk mendorong publikasi yang terarah, edukatif, dan berimbang mengenai program pembinaan warga binaan.
Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan Kepala Lapas Kelas IIA Rantauprapat Yosef Leonardo Sihombing bersama pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Labuhanbatu di ruang kerjanya, Jalan Juang 45, Kelurahan Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan, Senin (21/09/2026).

Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya Lapas Rantauprapat membangun komunikasi terbuka dengan berbagai pemangku kepentingan. Yosef diketahui baru sekitar satu bulan menjalankan tugas sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Rantauprapat.
Menurut Yosef, hubungan dengan stakeholder perlu dibangun sejak awal agar berbagai program pemasyarakatan dapat dipahami masyarakat secara utuh.
“Kolaborasi dengan stakeholder terus kami lakukan. Kunjungan PWI ini menjadi dukungan positif bagi kami dalam menjalankan pelayanan dan pembinaan warga binaan,” ujar Yosef (Senin, 21/09/2026).
Ia menilai media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi mengenai aktivitas pembinaan di dalam Lapas. Publikasi yang tepat, kata dia, dapat membantu masyarakat memahami proses pemasyarakatan secara lebih objektif.
Yosef menyebut pembinaan di Lapas tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan pengawasan. Ada pula program kemandirian, pembinaan kerohanian, pendidikan, keterampilan, serta berbagai kegiatan yang diarahkan untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
“Sudut pandang itu memungkinkan berbeda, tergantung melihatnya dari mana. Terpenting, informasi program pembinaan narapidana tersampaikan secara objektif dan berimbang kepada masyarakat,” kata Kalapas Kelas IIA Rantauprapat.
Karena itu, Lapas Rantauprapat ingin membuka komunikasi yang lebih konstruktif dengan media. Informasi mengenai kegiatan di dalam Lapas diharapkan tidak berhenti pada persoalan pelanggaran atau kasus hukum.
Yosef juga berharap pemberitaan dapat memperkenalkan sisi pembinaan yang selama ini belum banyak diketahui publik.
“Kami terus berupaya mengubah pandangan masyarakat agar Lapas tidak dianggap sebagai tempat tertutup atau angker. Masyarakat perlu mengetahui bahwa ada proses pembinaan yang berjalan di dalamnya,” ucapnya.










