FIFA dalam artikel yang diterbitkan 31 Agustus 2026 dengan judul “Messi le dice adiós a la Selección argentina ‘Me vacié”` melaporkan bahwa Messi merasa sudah memberikan seluruh kemampuannya untuk Argentina. “Saya sudah memberikan semuanya. Saya tidak punya lagi yang bisa diberikan,” tulis Messi dalam pesan perpisahannya.
Bagi Messi, keputusan meninggalkan Argentina tentu bukan perkara sederhana. Tim nasional telah menjadi bagian penting dalam hidup dan kariernya sejak debut pada 2005.

Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah Jika melihat perjalanan Messi bersama Argentina, kisahnya tidak selalu dipenuhi kemenangan. Pada awal kariernya, Messi justru lebih sering mendapat sorotan ketika Argentina gagal meraih gelar.
Kekalahan di beberapa pertandingan final membuat tekanan terhadap dirinya semakin besar. Puncaknya terjadi setelah Argentina kalah dari Chile dalam final Copa América Centenario 2016. Saat itu Messi sempat menyatakan ingin berhenti dari tim nasional.
Namun keputusan tersebut tidak berlangsung lama. Ia kembali memperkuat Argentina dan perlahan membawa tim tersebut menuju periode paling sukses dalam beberapa dekade terakhir.
Perubahan besar terjadi pada 2021. Argentina berhasil memenangkan Copa América setelah mengalahkan Brasil di final. Trofi itu menjadi gelar senior pertama Messi bersama tim nasional.
Setelah itu, perjalanan Messi dan Argentina seolah menemukan jalannya. Pada 2022, Argentina memenangkan Finalissima. Beberapa bulan kemudian, Messi mengangkat trofi yang selama bertahun-tahun menjadi impiannya.
Keberhasilan Argentina di Qatar menjadi titik penting dalam karier Messi. Dalam turnamen tersebut, Messi tampil sebagai pemimpin Argentina. Ia mencetak gol-gol penting dan membawa timnya melewati pertandingan demi pertandingan hingga final.
Argentina akhirnya mengalahkan Prancis melalui drama adu penalti. Messi mengangkat trofi Piala Dunia. Momen tersebut sekaligus menjawab keraguan yang selama bertahun-tahun mengiringi perjalanan internasionalnya.
Setelah Piala Dunia 2022, Argentina kembali meraih Copa América 2024. Rangkaian prestasi itu membuat Messi tidak lagi hanya dikenang sebagai pemain berbakat yang gagal membawa Argentina juara.
Ia pergi dengan status sebagai kapten yang berhasil memberikan gelar-gelar terbesar bagi negaranya. Angka juga menjadi bagian penting dari warisan Messi.
Selama membela tim senior Argentina, ia mencatat 207 pertandingan dan 125 gol. Catatan tersebut menjadikannya pemain dengan jumlah penampilan terbanyak sekaligus pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah tim nasional Argentina.
Reuters dalam laporan yang diterbitkan 31 Agustus 2026 juga mencatat statistik tersebut ketika memberitakan keputusan Messi mengakhiri karier internasionalnya.
Jumlah itu tentu sulit disamai dalam waktu dekat. Namun, bagi publik Argentina, warisan Messi bukan hanya tentang angka. Ada trofi, momen dramatis, kekalahan, kebangkitan, hingga akhirnya keberhasilan menjadi juara dunia.
Piala Dunia 2026 menjadi panggung terakhir Messi bersama Argentina. Usianya sudah 39 tahun ketika menjalani turnamen tersebut. Meski demikian, kehadirannya tetap menjadi perhatian utama setiap kali Argentina bertanding.
Argentina kemudian mencapai final. Namun, perjalanan mereka harus berhenti setelah Spanyol menang 1-0. Kekalahan itu terasa berat. Apalagi, pertandingan tersebut kemudian dikenang sebagai laga terakhir Messi bersama Argentina.









