Sementara itu, Dr. H. Dedi Iskandar Batubara menyoroti tantangan pendidikan nasional yang dinilai terlalu berorientasi pada hasil instan. Ia menilai pendidikan saat ini belum sepenuhnya berhasil membangun daya pikir kritis peserta didik.
Ia mendorong agar pendidikan, termasuk pendidikan agama, kembali menempatkan nalar dan logika sebagai fondasi utama. Menurutnya, iman dan karakter yang kuat tumbuh dari proses berpikir yang sehat dan reflektif.

Perwakilan Kementerian Agama RI dalam kesempatan tersebut memaparkan konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kurikulum ini hadir sebagai penguatan nilai dalam pendidikan, bukan pengganti kurikulum nasional.
Melalui pendekatan ini, madrasah diarahkan menjadi ruang belajar yang aman, inklusif, dan berorientasi pada nilai kemanusiaan. KBC menanamkan cinta kepada Tuhan, ilmu, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air.
Materi teknis implementasi KBC disampaikan oleh Rahmad Jamil, S.Ag., M.Pd. Ia menegaskan bahwa nilai cinta harus tampak dalam keseharian sekolah, mulai dari proses pembelajaran, budaya sekolah, hingga keterlibatan orang tua dan masyarakat.
Pada sesi lanjutan, Rahmad Jamil juga membahas pembelajaran mendalam sebagai solusi atas rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik. Pendekatan ini mendorong pembelajaran yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kemandirian.









