Berdasarkan laporan Ketua Panitia yang disampaikan oleh Andri Ariaman Siregar, dari total 218 jemaah haji asal Kabupaten Labuhanbatu yang berangkat ke Tanah Suci tahun ini, sebanyak 217 orang telah kembali bersama rombongan.
Namun satu orang jemaah, Hj. Tiara Ritonga, belum dapat pulang bersama rombongan karena masih menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Saat ini beliau masih dirawat di salah satu rumah sakit di Madinah.

Kabar tersebut membuat suasana penyambutan sejenak diliputi keheningan. Di tengah kebahagiaan yang dirasakan, seluruh hadirin turut mendoakan agar Hj. Tiara Ritonga segera diberikan kesembuhan oleh Allah SWT dan dapat kembali ke kampung halaman dalam keadaan sehat.
Doa-doa pun dipanjatkan, menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan dan kepedulian masih sangat kuat di tengah masyarakat Labuhanbatu.
Kesuksesan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini tentu tidak terlepas dari kerja keras banyak pihak. Mulai dari panitia penyelenggara, petugas kesehatan, petugas pendamping ibadah, hingga aparat keamanan yang mengawal seluruh proses keberangkatan dan kepulangan jemaah.
Atas dedikasi tersebut, Wakil Bupati menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah bekerja tanpa mengenal lelah demi memastikan para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan lancar.
“Mewakili Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh petugas yang telah memberikan pelayanan terbaik kepada para jemaah sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air,” katanya.
Acara penyambutan itu turut dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Labuhanbatu, Sekretaris Daerah Ir. Hasan Heri Rambe, Ketua TP-PKK Kabupaten Labuhanbatu Ny. Hj. Wan Juma Sari Dewi, Ketua Dharma Wanita Persatuan Mawar Devi, para staf ahli bupati, asisten Sekdakab, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, para camat, tokoh agama, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Bagi para jemaah, malam itu menandai berakhirnya perjalanan panjang yang selama ini mereka impikan. Namun sejatinya, kepulangan dari Tanah Suci bukanlah akhir dari perjalanan spiritual yang telah mereka tempuh.
Perjalanan untuk menjaga kemabruran haji, memperbaiki diri, memperkuat ibadah, memperluas kepedulian terhadap sesama, dan menjadi cahaya bagi lingkungan sekitar. Sebab hakikat haji tidak hanya terlihat dari gelar yang disandang, melainkan dari perubahan sikap dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari.
Di bawah langit malam Labuhanbatu, tangis haru, senyum bahagia, dan lantunan doa menyatu menjadi satu kisah yang akan terus dikenang. Sebuah kisah tentang kerinduan yang terobati, rasa syukur yang tak terhingga, serta harapan agar keberkahan dari Tanah Suci senantiasa mengalir untuk keluarga, masyarakat, dan Bumi Ikata Bina En Pabolo tercinta. (Afdillah)









