Dalam penjelasannya, dr. Adi juga menanggapi video yang beredar dan memunculkan anggapan bahwa pasien ditinggalkan petugas selama menjalani cuci darah.
Ia menegaskan, petugas tidak meninggalkan pasien, melainkan berpindah sementara untuk memberikan pelayanan kepada pasien lain yang juga membutuhkan tindakan.

“Perawat bukan meninggalkan pasien. Saat itu petugas berpindah untuk membantu pasien lain yang juga membutuhkan pelayanan. Sebelum berpindah, kondisi pasien sudah diperiksa dan proses cuci darah masih berjalan sebagaimana mestinya,” tuturnya.
Ia menerangkan, pada malam itu terdapat beberapa pasien yang sedang menjalani pelayanan di ruang hemodialisa. Ketika seorang pasien lain berinisial V menyelesaikan proses cuci darah dan membutuhkan bantuan petugas, kondisi pasien S.U. maupun pasien lain berinisial S terlebih dahulu dipastikan dalam keadaan stabil.
Setelah membantu pasien tersebut, petugas juga sempat menangani gangguan pada alat milik pasien lain di ruangan berbeda. Begitu seluruh tindakan itu selesai, petugas kembali melakukan pemantauan terhadap pasien S.U.
Namun saat pemeriksaan kembali dilakukan, kondisi pasien diketahui mengalami penurunan secara tiba-tiba.
“Begitu melihat kondisi pasien memburuk, petugas langsung melapor kepada dokter dan segera melakukan tindakan penyelamatan sesuai prosedur,” pungkas dr. Adi.
Tim medis kemudian menghentikan proses cuci darah dan melakukan tindakan penyelamatan di ruang hemodialisa. Setelah itu pasien dipindahkan ke ruang perawatan intensif agar penanganan dapat dilakukan secara maksimal.
Di ruang intensif, berbagai upaya penyelamatan terus dilakukan. Tim medis memasang alat pemantauan, memberikan bantuan pernapasan, serta melakukan tindakan resusitasi ketika kondisi jantung pasien beberapa kali berhenti.
Menurut dr. Adi, dalam proses tersebut sempat muncul respons setelah tindakan penyelamatan dilakukan.
“Sempat ada respons, detak jantung kembali terdengar dan nadi kembali teraba. Namun kondisi pasien kembali menurun sehingga tim terus melanjutkan tindakan penyelamatan,” ungkapnya.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, kondisi pasien akhirnya tidak dapat dipertahankan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Menanggapi sorotan mengenai jumlah petugas di ruang hemodialisa, dr. Adi menjelaskan bahwa pelayanan cuci darah pada malam hari bukan merupakan layanan rutin. Layanan tersebut dibuka karena adanya pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Pada malam kejadian, terdapat lima pasien yang menjalani cuci darah dengan dua petugas yang bertugas sesuai jadwal pelayanan malam.
“Layanan cuci darah rutin dilakukan pada pagi hingga sore hari. Malam itu pelayanan tetap dibuka karena ada pasien dalam kondisi darurat. Petugas tetap melakukan pemantauan terhadap seluruh pasien sesuai kebutuhan pelayanan,” urainya.










