Istrinya ikut menopang ekonomi rumah tangga dengan berjualan jajanan anak-anak serta makanan seperti miso di rumah mereka, Jalan Balik Gunung, Kelurahan Pulo Padang, Kecamatan Rantau Utara. Dari usaha sederhana itu, kebutuhan empat orang anaknya perlahan terpenuhi satu perempuan, tiga laki-laki, dengan nomor dua dan tiga merupakan kembar.
Puluhan tahun bergelut dengan pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata, Bang Lomo merasakan pasang surut kehidupan. Panas, hujan, dan debu jalanan menjadi teman sehari-hari di balik lapak kecilnya. Namun, di balik semua kesulitan itu, ada rasa bangga karena pekerjaannya membawa manfaat bagi banyak orang.

“Sepatu itu teman perjalanan manusia. Kalau rusak, langkah jadi terganggu. Saya bahagia bisa mengembalikan kenyamanan orang lain, meski hasilnya kadang kecil,” ungkapnya lirih suatu ketika.

Bang Lomo Harahap saat menjahit sepatu pelanggan
Lebih dari sekadar mencari nafkah, Bang Lomo memberi teladan tentang kesetiaan terhadap profesi. Ia tetap bertahan meski zaman berganti, teknologi berkembang, dan gaya hidup masyarakat berubah. Keberadaannya bukan hanya menyambung sol sepatu, tetapi juga menyulam cerita tentang keteguhan, keikhlasan, dan kebanggaan seorang pekerja keras dari Labuhanbatu.









