Itulah sebabnya, sejak awal Kapolres menekankan satu hal kepada seluruh personel tidak boleh ada kekerasan, dalam bentuk apa pun.
“Walaupun dimaki, walaupun didorong, jangan dibalas. Tidak ada kekerasan verbal, tidak ada kekerasan fisik. Kedepankan sikap humanis,” ujarnya dalam arahan.

Arahan itu bukan formalitas. Sepanjang pelaksanaan eksekusi, AKBP Wahyu terlihat aktif memantau langsung di lapangan. Ia tak hanya berdiri di titik aman, tetapi mendekati warga, berbicara dengan nada rendah, dan memastikan anggotanya tetap menahan diri.
Di beberapa titik, suasana berlangsung haru. Sejumlah warga memilih menerima putusan pengadilan. Dengan tangan sendiri, mereka membongkar rumah, mengangkat perabot, dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dibawa. Tangis tertahan terdengar, namun tak berubah menjadi amarah.
Di tengah proses tersebut, sebuah momen kecil menjadi gambaran besar tentang kepemimpinan Kapolres Labuhanbatu.
Seorang warga, diduga kelelahan dan terpukul secara emosional, tampak hampir pingsan setelah rumahnya dieksekusi. Tanpa ragu, AKBP Wahyu mendekat. Ia memberikan air mineral, menenangkan warga tersebut, dan memastikan kondisinya stabil.
Tidak ada kamera yang diminta. Tidak ada gestur berlebihan. Hanya tindakan spontan seorang pemimpin yang melihat warganya sebagai manusia, bukan objek pengamanan.
Bagi AKBP Wahyu Endrajaya, kehadiran Polri di lapangan bukan semata menjalankan perintah hukum, tetapi memastikan hukum ditegakkan tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan.
“Polri hadir untuk masyarakat. Dalam setiap kegiatan, kami mengutamakan keselamatan, ketertiban, serta sisi kemanusiaan,” ujarnya kemudian.
Pengamanan eksekusi berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Polri bersinergi dengan unsur pemerintah daerah dan instansi terkait. Meski diwarnai dinamika, seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan kondusif.









