AKARRUMPUT.COM, Labuhanbatu – Rantauprapat, kota yang kini menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi Kabupaten Labuhanbatu, tumbuh dari sebuah kawasan sederhana di tepian Sungai Bilah. Sungai ini bukan sekadar bentang alam, melainkan urat nadi kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Sejarah mencatat, jauh sebelum jalan raya dan kendaraan bermotor mendominasi, Sungai Bilah menjadi jalur utama transportasi dan perdagangan. Perahu-perahu kecil hingga kapal pengangkut hasil bumi lalu lalang membawa komoditas dari wilayah pedalaman menuju pesisir timur Sumatera.


Sungai Bilah
Hal tersebut dikuatkan oleh kesaksian warga lokal asli bernama Ahmad Hasrun Rambe dengan sapaan akrabnya Acun. Saat ditemui awak media di kediamannya, Acun mengungkapkan, “bahwa Sungai Bilah pada masa lalu menjadi pelabuhan terakhir bagi warga untuk menjual hasil pertanian, seperti getah, pisang, dan komoditas lainnya, yang berasal dari Hapesong, Aek Marburik, Bandar Kumbul, serta daerah sekitarnya.” Ujar Acun. (Jumat, 26/12/2025).
“Selain sebagai jalur perdagangan, Sungai Bilah juga berfungsi sebagai pusat transportasi masyarakat menuju Kota Rantauprapat, mengingat pada waktu itu belum tersedia akses darat yang menghubungkan wilayah-wilayah tersebut,” tambah warga lokal asli itu.

Warga lokal asli Ahmad Hasrun Rambe (Acun)
Nama Rantauprapat sendiri diyakini lahir dari aktivitas tersebut. Kata rantau dimaknai sebagai tempat singgah, sementara perapat atau rapat merujuk pada lokasi berkumpulnya banyak orang. Kawasan ini menjadi titik temu para pedagang untuk beristirahat, berdagang, sekaligus bertukar kabar dan informasi.








