Keterangan tersebut juga tercantum dalam dokumen kronologi yang diterima AkarRumput.com.
Dalam dokumen itu disebutkan petugas keamanan sempat mengecek kondisi di dalam IGD. Karena kursi roda belum tersedia, petugas kemudian kembali ke depan dan mengambil kursi roda yang baru saja digunakan untuk memindahkan pasien lain.

Petugas tersebut selanjutnya membantu memindahkan pasien dari kendaraan, membawa pasien masuk ke IGD dan menyerahkannya kepada perawat untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah masuk ke IGD, pasien kemudian ditangani tenaga medis.
Dr. Yudha mengatakan, pemeriksaan awal menunjukkan kondisi pasien secara umum masih stabil. Pasien diketahui mengalami cedera pada bagian telinga dan sebelumnya sudah mendapat penanganan di klinik.
“Kalau melihat dari pemeriksaan awal yang dilakukan oleh petugas kami, secara umum pasien ini dalam kondisi masih stabil,” pungkas Wadir.
Dokumen resmi RSUD mencatat, dokter dan perawat kemudian melakukan skrining. Pasien tercatat dalam kondisi sadar dengan tekanan darah 127/75 mmHg, suhu 36,2 derajat Celsius, saturasi oksigen 98 persen dan denyut nadi 82 kali per menit.
Pemeriksaan berikutnya menemukan luka robek di bagian belakang telinga kiri serta luka pada telinga kanan. Luka tersebut kemudian dibersihkan oleh perawat IGD.
Penanganan dilanjutkan dengan konsultasi kepada dokter spesialis. Pasien kemudian dibawa ke ruang operasi untuk menjalani tindakan debridement.
“Sesudah dijemput, pasien ini dibawa ke dalam. Penanganan lanjutannya seperti biasa yang kami lakukan pada pasien-pasien lainnya,”tutur dr. Yudha.
Dokumen rumah sakit juga mencatat pasien menjalani pemeriksaan CT scan. Setelah itu, pasien kembali dibawa ke IGD untuk pemantauan lebih lanjut.
Menurut dr. Yudha, pasien menjalani perawatan selama sekitar tiga hari sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.
Manajemen RSUD Rantauprapat juga menyoroti potongan video yang beredar di media sosial.
Menurut hasil evaluasi internal, video tersebut tidak menggambarkan keseluruhan kejadian sejak pasien tiba hingga mendapatkan pelayanan medis.
Dokumen resmi rumah sakit menyebut video yang beredar tidak sepenuhnya menunjukkan kronologi dari awal kedatangan pasien sampai memperoleh pelayanan di IGD.
Karena itu, pihak RSUD meminta kejadian tersebut dilihat secara utuh, termasuk kondisi IGD pada saat pasien datang serta proses yang berlangsung setelah pasien dibawa masuk.
Dalam dokumen evaluasi, tindakan petugas keamanan juga dinilai lebih tepat dipandang sebagai upaya mengatur akses dan menangani kondisi IGD yang sedang penuh, bukan sebagai tindakan menolak atau menghalangi pasien mendapatkan pelayanan kesehatan.
Meski memberikan klarifikasi bahwa pasien tidak ditolak, manajemen RSUD Rantauprapat tidak berhenti pada penjelasan tersebut.
Pihak rumah sakit tetap melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kejadian di IGD.
Dr. Yudha mengatakan petugas yang berkaitan dengan kejadian akan dipanggil untuk dimintai keterangan.
“Kami akan dan sedang melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memanggil petugas-petugas terkait,” imbuhnya.
Menurutnya, jika dalam evaluasi ditemukan hal yang memang perlu diperbaiki, rumah sakit akan mengambil langkah sesuai hasil pemeriksaan.
“Kalau memang harus kami lakukan teguran dan seterusnya, sesuai dengan apa yang ditemukan, kami laksanakan sesuai dengan keperluannya,” tegasnya.
Dokumen resmi RSUD Rantauprapat juga memuat sejumlah rekomendasi setelah dilakukan evaluasi.
Selain itu, kemampuan komunikasi petugas keamanan ketika menghadapi keluarga pasien yang sedang emosional juga menjadi perhatian.
Langkah tersebut menjadi bagian dari evaluasi agar persoalan serupa tidak kembali menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Sebab, padatnya pelayanan IGD merupakan kondisi yang harus dihadapi rumah sakit setiap hari. Di satu sisi, pasien membutuhkan penanganan cepat. Di sisi lain, petugas juga harus mengatur kapasitas ruangan agar pelayanan terhadap pasien yang sudah berada di dalam tetap berjalan.
Pada kasus ini, RSUD Rantauprapat menegaskan bahwa pasien tetap dibawa masuk, diperiksa dokter dan perawat, mendapat tindakan medis lanjutan hingga menjalani perawatan.
Dengan adanya klarifikasi tersebut, manajemen RSUD Rantauprapat berharap masyarakat melihat persoalan secara lebih utuh dan tidak hanya berdasarkan potongan video yang beredar.
Bagi RSUD Rantauprapat, evaluasi atas kejadian ini bukan hanya soal memberikan klarifikasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperbaiki komunikasi, koordinasi dan kualitas pelayanan kepada masyarakat. (Afdillah)










