Selama dua tahun, Petrus menempuh pendidikan rohani hingga lulus. Setelah itu, ia dipercaya menjadi mentor di seminari tersebut selama kurang lebih satu tahun. Usai masa pengabdian itu, Petrus dipindahkan ke Porsea, Kabupaten Toba , dan menjalani pelayanan selama dua tahun sebagai penyiar radio sekaligus pelayan gereja.
Pada tahun 2025, Petrus kembali mendapat amanah pelayanan dan dipindahkan ke Rantauprapat. Saat ini, ia menetap di Kelurahan Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu. Di daerah ini, Petrus aktif memberikan pelayanan rohani bagi empat unit SMK YAPIM, serta menjangkau berbagai instansi lainnya.

Dalam kesehariannya, Petrus dikenal sebagai pribadi yang humoris, berwajah manis, dan berhati lembut. Ia mudah bergaul dengan para siswa dan kerap mencairkan suasana melalui candaan, yang menjadi salah satu sumber kebahagiaannya dalam pelayanan.
“Sukanya, bisa bersenda gurau dan dekat dengan para siswa,” ungkapnya.
Namun, di balik sukacita tersebut, terdapat duka yang harus ia jalani, yakni jarak yang memisahkannya dari keluarga serta rasa rindu terhadap kampung halaman yang kerap datang. Salah satu pengalaman pelayanan paling berkesan baginya adalah saat melayani ke Sibolga.
Dari Rantauprapat, Petrus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor sambil membawa ratusan kilogram sembako untuk dibagikan. Perjalanan panjang dan melelahkan itu justru semakin memperdalam makna pengabdian baginya.
Petrus merupakan anak tunggal dari pasangan Hendrick Kakiay dan Rosmiati Kakiay. Hingga kini, ia masih lajang dan menegaskan belum memiliki target menikah dalam waktu dekat karena ingin tetap fokus pada pelayanan rohani yang sedang dijalaninya.









